Bayi bisa diajak mengobrol? Tentu saja!  Bahkan, sejak si kecil masih dalam kandungan pun sudah bisa diajak bercakap-cakap.

Coba deh, ingat-ingat lagi sewaktu hamil si buah hati. Ketika janin menendang-nendang perut, mama akan berkata dengan lembut, “Eh, Adek mau main bola, ya…. Boleh, tapi pelan-pelan ya!”. Tak lama kemudian, tendangannya pun mereda. Nah, bukankah ini pertanda bahwa si calon bayi sudah bisa diajak berbicara? Beberapa pakar dalam ilmu kebidanan dan kandungan memang menyarankan mama hamil agar rajin mengajak ngobrol janin supaya terbentuk ikatan (bonding) antara mama dengan si calon bayi.

serunya-ngobrol-dengan-bayiSetelah lahir, di usia 3 bulan bayi mulal menampakkan dirinya sebagai makhluk sosial. Terbukti, ia dapat tersenyum sebagai responsnya terhadap sapaan. Bayi juga mulai memperhatikan wajah secara saksama dan mulai mengeluarkan suara meski hanya teriakan kecil. Di usia 6 bulan, si kecil mulai mengenali Mama, Papa dan orang-orang terdekat lainnya, sehingga ia merasa senang jika mereka ada di dekatnya. Ia juga tertarik dengan berbagai bunyi-bunyian dan mulai mengoceh. Kini saatnya Mama dan Papa bisa mengajak si buah hati mengobrol dalam arti sebenarnya.

Nah, supaya momen mengobrol dengan bayi menjadi jauh lebih berharga dari sekadar lucu-lucuan atau seru-seruan, kita perlu membantu si kecil belajar kaidah utama percakapan, yaitu mendengarkan apa yang dikatakan teman bicaranya. Untuk itu, saat berbicara dengan bayi, lakukan dengan suara “keras”, jelas, dan usahakan berhadap-hadapan. Sebaliknya, kita juga perlu mendengarkan bayi agar bayi merasa dihargai. Adanya perasaan dihargai ini, pada akhirnya membuat bayi senang berbicara dengan orangtuanya. Dengan kata lain, jika bayi mengetahui orangtuanya mendengarkan, ia akan berusaha  untuk berkomunikasi sesering mungkin. Semakin banyak ia melakukan hal itu, otomatis ia akan semakin terampil berkomunikasi. Stimulasi lain, seperti merayap dan merangkak, akan membangun dada yang lebih besar, yang akan memudahkan baginya untuk bersuara.

Istimewanya, hanya dengan mendengarkan celotehan si bayi, kita akan mampu memahami berbagai suara yang dikeluarkan oleh bayi sebagai bahasa komunikasinya, termasuk perubahan suara yang diucapkan olehnya secara detail. Namun, perlu dipahami, tiap anak memiliki perkembangan bahasa yang berbeda-beda. Jadi, jangan panik bila si kecil tidak mengucapkan kata-kata. Apalagi, obrolan pun tak selalu berupa kata-kata/celotehan. Saling mengusap lalu memberikan respons juga merupakan obrolan.

Selamat menikmati obrolan dengan si buah hati!

Baca juga artikel lainnya :

Membentuk Pola Tidur Bayi

Pelukan Ibu, Hangat Ala Kangguru