pilih-mana-susu-cair-atau-susu-bubukNamanya saja balita, pasti tidak lepas dari urusan susu. Mana yang lebih tepat buat si kecil, susu cair atau susu bubuk?

Boleh dibilang, susu merupakan sumber gizi yang mendekati sempuma bagi si kecil. Ya. dalam susu, terkandung lemak, protein, karbohidrat, mineral (kalsium, fosfor), dan vitamin (A, D, E dan K). Itu sebabnya, susu penting bagi bayi dan balita yang sedang dalam masa pertumbuhan.

Bahkan saat ini, banyak susu yang diberi tambahan (fortifikasi) berbagai zat gizi penting, seperti omega 3 dan prebiotik. Tak heran, banyak ibu jadi bingung bila sudah berdiri di deretan rak susu pasar swalayan.

Supaya tidak bingung, yuk kita ulik satu per satu jenis-jenis susu, khususnya susu yang biasa dikonsumsi balita.

Ada begitu banyak ragam susu di pasaran. Ada yang berasal dari hewani, yaitu sapi, kerbau, kambing dan kuda, tetapi bisa juga berasal dari nabati, yaitu susu kedelai. Ada dalam bentuk cairan, ada pula bubuk. Ada yang siap minum. ada yang perlu proses pencampuran dulu.

1. SUSU SEGAR

Susu jenis ini diambil dari sapi melalui pemerahan. Pada susu ini tidak diberi perlakuan apa pun, atau murni alamiah. Makanya, selain harus dipilih sapi yang sehat dan layak diperah susunya, proses pemerahannya juga harus dilakukan dengan sangat teliti dan dijaga benar kebe sihannya (jangan sampai terjadi kontaminasi).

Termasuk di sini. menjamin kebersihan pemerah susu serta kebersihan alat uniuk memerah. Mengingat tidak dilakukan apapun terhadap susu segar, maka umur penyimpanan pun jadi tidak panjang. Jika selalu disimpan pada suhuvdingn bisa berumur sehari.

Untuk kondisi industri persusuan yang ada sekarans ini, praktik mengkonsumsi susu segar tanpa perlakuan pemanasan tidak dianjurkan. Praktik yang disarankan adalah yang dilakukan proses pemanasan secukupnya (susu pasteurisasi), sehingga kuman-kuman penyebab penyakit yang mungkin terdapat pada susu bisa dieliminir.

2. SUSU PASTEURISASI

Susu jenis ini berasal dari susu segar yang kemudian dilakukan pemanasan 63-72 derajat Celcius selama sekitar 15 detik. Tujuannya, untuk membunuh bakteri patogen (penyebab penyakit). Susu segar yang diperoleh sebagai hasil pemerahan, dianjurkan untuk dilakukan proses pasteurisasi ini, apalagi jika akan diberikan kepada balita Anda.

Susu pasteurisasi, yang di pasaran dijual tetap dalam bentuk cair ini, umumnya dikemas secara higienis dalam wadah karton atau plastik yang kedap udara. Dengan demikian, susu ini terbebas dari pencemaran bakteri perusak dari lingkungannya.

Penting diingat, susu pasteurisasi harus disimpan dalam lemari pendingin (memerlukan suhu rendah sekitar 5 derajat Celcius). Jika disimpan pada suhu raang biasa, susu pasteurisasi akan cepat rasak. Hal ini karena proses pemanasan yang diberikan tidak membunuh semua bakteri, termasuk bakteri pembusuk.

Jika disimpan pada suhu dingin, masa simpan susu pasteurisasi bisa mencapai sekitar 7-14 hari.

3. SUSU STERIL

Susu jenis ini lebih awet dari susu pasteurisasi. Ya, karena proses sterilisasi membunuh spora bakteri yang tahan panas (dengan demikian juga akan membunuh bakteri pembusuk), sehingga dihasilkan susu yang tahan disimpan lama pada suhu raang.

Secara umum, proses sterilisasi susu bisa dilakukan pada berbagai suhu. Semakin tinggi suhu sterilisasi yang digunakan, semakin singkat waktu sterilisasi yang diperlukan. Sterilisasi bisa dilakukan pada suhu 110-120 derajat Celsius selama 10-20 menit. Namun, sterilisasi bisa juga dilakukan pada suhu yang lebih tinggi atau bahkan sangat tinggi (ultra high temperature, UHT), tetapi dengan waktu yang sangat singkat.

Suhu tinggi (ultra tinggi) yang digunakan bisa mencapai 135-140 derajat Celsius dengan waktu sekitar 2-5 detik. Prinsip sterilisasi suhu tinggi dan waktu singkat ini sering pula disebut teknologi High Temperature Short Time atau HTST. Pemanasan dengan teknologi HTST (atau juga UHT) ini ternyata memberikan keuntungan. Di samping efektif membunuh mikroorganisme tahan panas, khususnya spora bakteri, susu jenis ini juga efektif melindungi zat gizi dari kerusakan karena panas. Jadi, panas tinggi tetapi waktu singkat, efektif membunuh bakteri dan tidak menyebabkan perubahan secara siginifikan cita rasa susu, termasuk warna, aroma, nilai gizi, dan kandungan vitamin.

Di Indonesia, susu yang disterilisasikan dengan suhu ultra tinggi, sering disebut sebagai susu UHT. Bentuknya cair. Selain awet dan bisa disimpan pada suhu ruang biasa (tidak memerlukan pendinginan kecuali setelah dibuka), juga mempunyai karakteristik mutu mendekati mutu susu murni.

4. SUSU BUBUK

Boleh dibilang, susu jenis inilah yang paling banyak mendapat perlakuan alias menjalani berbagai proses. Asalnya dari susu sapi segar, yang kemudian diberi pemanasan (sekitar 80 derajat Celcius selama sekitar 30 detik), kemudian dilakukan penguapan (di mana kadar air dikurangi), dan dikeringkan. Pengeringan bisa dilakukan dengan menggunakan pengering drum (drum dryer) atau pun pengering semprot (spray dryer), sehingga dihasilkan susu bubuk.

Proses pengeringan dengan menggunakan pengering semprot akan menghasilkan susu bubuk dengan mutu yang lebih baik karena prinsip pengeringan semprot bisa dikategorikan sebagai proses HTST. Pengering semprot sering dioperasikan dengan suhu udara pengering 180-220 derajat Celsius, dimana produk akan terpapar selama 0,5-1 detik dengan suhu susu bisa mencapai 100 derajat Celsius. Di  samping mampu mempertahankan mutu, pengering semprot juga akan menghasilkan susu bubuk yang mudah dilarutkan dalam air.

Bila penyimpanan susu bubuk yang biasa dikemas dalam wadah kaleng atau karton dan kertas kedap udara ini terjaga dengan baik, maka masa simpan susu bubuk bisa mencapai sekitar 2 tahun. Selain diperkaya dengan aneka zat gizi penting untuk balita, susu bubuk juga bisa dalam bentuk berlemak (Fullcream milk), rendah lemak (partly skim milk), dan tanpa lemak (skim milk).

 MANA YANG BAIK UNTUK BALITA?

Perlu Anda tahu, proses perubahan dari susu murni segar menjadi susu pasteurisasi atau UHT tidak terlalu banyak mengakibatkan kerusakan protein. Tetapi, dari susu cair menjadi susu bubuk bisa menyebabkan kerusakan atau perubahan sifat proteinnya, terutama jika dilakukan proses pengeringan dengan pengering drum.

Untungnya, dengan kemajuan teknologi saat ini, penambahan berbagai zat gizi penting bagi balita, seperti omega 3, omega 6, kalsium, atau lainnya, sudah bisa dilaku­kan. Sehingga, saat ini, baik susu cair maupun susu bubuk, sama baiknya untuk balita.

Selain kandungan gizi, Anda juga perlu selalu memperhatikan hal lain yang tercantum pada label sebelum membeli. Misalnya, waktu kadaluarsa dan petunjuk penggunaannya.

■  Susu cair. Perhatikan cara penyimpanannya. Susu pasteuri­sasi perlu selalu disimpan pada lemari es. Susu steril (susu UHT) tidak perlu disimpan pada lemari es, tetapi sesaat setelah dibuka, harus disimpan pada lemari es.

■ Susu bubuk. Dalam penyiapannya kita perlu memperhatikan komposisi antara susu dengan air. Setelah kemasan susu bubuk dibuka, usahakan untuk bisa selalu menutup wadah secara rapat. Susu bubuk biasanya bersifat higroskopis (mudah menyerap uap air dari udara), sehingga jika dibiarkan terbuka, susu tersebut akan menggumpal. Susu yang menggumpal masih bisa digunakan, namun akan lebih mudah tengik dan rusak.

Susu memang baik untuk tumbuh kembang anak. Hanya saja, jika ada pilihan, satu jenis susu yang kurang dianjurkan untuk diberikan pada balita adalah susu kental manis. Mengapa? Sebab pada prosesnya, susu jenis ini banyak diberi tambahan gula (sukrosa), yang jika dikonsumsi secara berlebihan bisa menyebabkan kegemukan. Namun demikian, susu kental manis bisa digunakan untuk tambahan di atas roti atau minuman lainnya.

:::Baca juga artikel lainnya :::

Kamar Mandi Aman

Memeras Asi

Menyusui Sambil Minum Obat, Bolehkah?