jika-si-kecil-kidalElamor Baju Hamil ~ Apakah si kecil kidal? Kidal bukan suatu penyakit, kelainan atau cacat, lho Mam. Kidal bisa merupakan faktor genetik. Ini berarti jika Mama atau Papa bertangan kidal, tidak menutup kemungkinan si kecil pun kidal. Sampai saat ini penyebab kidal belum diketahui pasti. Namun ada beberapa pendapat, seperti kidal disebabkan oleh hormon testosteron yang tinggi di dalam rahim. Ada pula yang percaya seseorang menjadi kidal lantaran tidak adanya salah satu kromosom di dalam tubuh. Kidal juga diduga merupakan pilihan dari sebuah pembelajaran. Dengan demikian, kidal tidak semata hanya merupakan faktor genetik, namun bisa disebabkan oleh hal-hal selain genetik, termasuk modeling.

Anak yang kidal gerakan tubuh (terutama gerakan tangan) didominasi bagian kiri. Hal ini terkait otak dominan pada anak kidal adalah otak bagian kanan. Nah, otak kanan memengaruhi fungsi bagian tubuh kiri manusia. Tak heran kalau anak kidal cenderung menggunakan tangan kirinya untuk beraktivitas.

Sejak Masa Janin

Menariknya, penelitian membuktikan kidal sebenarnya sudah dapat diperkirakan sejak dalam kandungan, yakni lewat tampilan USG. Jika si calon bayi terlihat mengisap jempol kirinya, kemungkinan besar ia akan tumbuh menjadi anak kidal. Namun secara umum, kita mengetahui seorang anak adalah kidal saat ia berusia 3 tahunan. Sebelum usia itu, anak dalam tahap eksplorasi sehingga saat beraktivitas cenderung menggunakan kedua tangannya (baik kanan maupun kiri). Misal, saat mulai belajar menggunakan sendok, menggunakan alat tulis, belajar menyisir, dan sebagainya.

Di atas usia 3 tahun, koordinasi motorik anak sudah semakin baik dan mantap. Perilaku pun semakmn terbentuk. Oleh sebab itulah, seorang anak baru dapat dipastikan kidal atau tidak pada usia di atas 3 tahun.

Pertanyaan selanjutnya, apakah anak kidal dapat dilatih menggunakan tangan kanannya? Sebelum usia 6 tahun, umumnya masih bisa. Di atas usia itu, kidal umumnya akan menjadi lebih permanen karena kebiasaan anak menggunakan tangan kiri sudah makin menguat.

Sosialisasi Tergangu

Adanya pandangan, terutama pada masyarakat Indonesia, bahwa kidal itu berbeda, kidal itu aneh, menggunakan tangan kiri itu tidak sopan, membuat anak kidal cenderung sulit bersosialisasi dan mengalami rasa percaya diri yang kurang. Padahal, kepercayaan diri merupakan kunci anak untuk bersosialisasi di lingkungannya. Manakala anak direndahkan terus-menerus, ia akan memiliki pandangan bahwa dirinya memang berbeda, lalu dari situ timbul rasa malu. Mereka pun lantas tidak percaya diri. Akibatnya, potensinya akan mati. Untuk itulah peran orangtua dalam menumbuhkan kepercayaan diri pada si kecil yang kidal amat besar. Apa yang bisa kita lakukan? Berikut saran Monica Sulistiawati, MPsi., Psikolog, C.Ht., CGA bagi orangtua dalam menghadapi buah hati yang bertangan kidal:

1. Boleh dilatih tetapi tidak dipaksa

Kalaupun anak ingin dilatih menggunakan tangan kanan, latihlah untuk hal-hal bensifat normatif, semisal berjabat tangan atau saat menenima barang. Selebihnya biarkan anak menggunakan tangan kiri. Misal, saat ia menerima barang menggunakan tangan kanan kemudian menggunakan tangan kiri untuk mengoper. Ini tak penlu dipermasalahkan.

Hindari pula kalimat, “Ayo pakai tangan manis dong”. Hal itu sama dengan menunjukkan tangan kiri adalah tangan kotor, padahal tentu tidak demikian. Bila anak lupa, misal, berjabat tangan dengan tangan kiri, tak perlu menegunnya dengan keras. Ingat, jika terus-terusan ditegur, anak akan minder. Cara terbaik adalah dengan membeni contoh.

2. Ajarkan perlahan tapi pasti

Berikan contoh menggunaka tangan kanan yang baik dan benar. Saat memberi contoh sebaiknya tidak dilakukan dari posisi samping, melainkan berhadapan. Bila kita mengajarkan dengan mengulurkan tangan kanan di sebelah anak, posisi ini dapat membingungkan anak, mana kiri dan mana kanan. Berbeda jika kita berdiri di hadapan anak sambil mengulurkan tangan tepat di depannya (seprti mengajak langsung untuk berjabat tangan). Dengan cara seperti ini, si kecil pasti akan langsung membalasnya dengan tangan kanan.

3. Menerima anak apa adanya

Orangtua perlu memiliki pandangan positif bahwa tidak ada perbedaan signifikan antara tangan kidal dan tangan kanan, kecuali gerakan tubuh yang dominan. Untuk itu, si kidal tak perlu mendapat perlakuan khusus, juga tidak dlbanding-bandingkan dengan anak lain. “Lihat kakakmu bisa pakai tangan kanan, masa kamu enggak bisa”, perkataan ini selain tidak enak didengar, juga dapat membuat si kidal merasa iri, malu, dan tidak percaya diri.

Jadi, kuncinya, terimalah si kecil apa adanya. Sekali lagi tangan kiri dan tangan kanan sama saja. Pandanglah kidal sebagai keistimewaan, bukan sebuah aib.